You Will Never Be Alone

You Will Never Be Alone

Kehilangan biasanya akan selalu disertai oleh kesedihan. Ibarat kata kayak nasi goreng pakai telor, udah sepaket. Anehnya Gia tidak merasakan kesedihan itu, hatinya terlalu beku untuk dicairkan oleh sebuah kehilangan dari Neneknya. Gia berulang kali berusaha merasakan ada di posisi Neneknya, merasakan anaknya menikah dengan wanita yang tidak ia inginkan tapi yang terpikirkan oleh Gia bukan kebencian, mungkin hanya rasa kecewa.

Dari kecil Gia tumbuh dengan rasa benci yang luar biasa dari Neneknya. Biasanya masa kecil itu tidak terlalu teringat jelas tapi Gia bisa mengingat jelas bagaimana Neneknya terus menerus menghina dirinya. Dulu sewaktu Papanya mengajak dirinya ke rumah megah Neneknya, pertama kali yang ia dapatkan hanya sebuah sorotan mata tidak terima. Gia sampai bertanya-tanya, apakah dirinya ini memang sepantas itu untuk dibenci?

Meskipun sekarang Neneknya sudah tidak ada di dunia ini lagi tapi beliau tetap meninggalkan sebuah luka bagi Gia. Luka yang perlahan mulai sembuh namun bekasnya tak pernah hilang. Ditambah sekarang semua pandangan yang menatapnya aneh. Dalam semalam semua orang sekarang memandangnya bukan lagi seorang Ghiana melainkan seorang Bimantara. Gia masih belum terbiasa dengan hal itu, aneh rasanya dipandang seperti ini. Menjadi salah satu kaum yang Gia hindari dari lama.

Sewaktu dirinya datang ke kantor, semua orang langsung mulai berbicara tentang tentang kemewahan keluarganya. Bukan ini yang Gia inginkan, tapi inilah resiko. Tindakannya pasti mengambil resiko besar, Gia kira dirinya akan siap tapi nyatanya dia masih cukup terkejut. Gak gampang menerima sesuatu yang susah untuk diterima dalam waktu singkat, semua butuh waktu.

Suasana gelap, Gia mengusap kedua lengannya. Gia gak paham lagi dengan temannya ini, tindakannya ada-ada saja. Sekarang Gia berada di lokasi yang Eden berikan. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikannya dari jauh. Serem juga kalo tiba-tiba sesuatu berwujud putih nongol, Gia bisa-bisa kena serangan jantung mendadak. Tangannya sibuk menari diatas layar, semua kata-kata kesal sudah ia ungkapkan di roomchatnya dengan Eden.

Gia melihat sekeliling, ini gelap banget. Jantung Gia mulai berbedar, jangan-jangan Eden beneran diculik? Tempat yang Gia kunjungi ini persis kayak film-film mafia, gelap dan tidak terditeksi ada manusia. Yakali Eden di culik mafia? Gia menggelengkan kepalanya, khayalan macam apa ini.

Deru nafasnya memburu, sekarang bukan lagi was-was diculik mafia tapi bulu kuduknya sudah merinding banget. Kalau misal manusia, Gia masih bisa melawan tapi jika hantu yang muncul, sudahlah Gia cuma bisa pasrah. Ia hidupkan lampu handphonenya dan mulai sedikit demi sedikit berjalan, pandangan di depannya gak jelas tapi ia bisa mendengar air pancuran di depan sana.

Mata Gia seketika tertutup akibat silau yang disebabkan oleh seluruh cahaya lampu yang hidup bersamaan, lampu warna-warni mulai menghiasi seluruh taman. Gia membelakan matanya, nafasnya terhenti sejenak melihat seluruh pemandangan ini. Tidak seperti pikirannya yang mengira ini merupakan tempat seram atau tempat para mafia, nyatanya ini adalah sebuah amusement park.

Hanya rasa kagum saat matanya melihat sebuah air mancur berbentuk bebek itu tepat di depannya. Pohon-pohon yang dihiasi oleh lampu-lampu kecil, musik taman bermain yang mulai dialunkan, serta Gia mulai mencium beberapa bau makanan!

Matanya menoleh ke kiri, terdapat reel yang menjulang keatas, sudah pasti itu roller coaster. Belum lagi bianglala yang sudah bisa dilihat dari kejauhan. Kakinya secara tidak sengaja menghentakan langkah kecil, menandakan bahwa wanita ini sangat kesenangan.

“Do you like it?” bisiknya membuat Gia langsung menoleh cepat. Pertama kali yang dapat Gia lihat adalah sebuah senyuman manis, senyuman yang sekarang menjadi candu untuknya.

“Zac!” Gia langsung lompat memeluk Zacky sampai laki-laki itu refleks memeluk Gia erat. “I love it.”

Zacky tersenyum bangga. “Kirain kamu bakal ngomel kalo saya kasih surpirse kayak gini.”

“Ini bagus banget…” ucap Gia lalu melepas pelukan itu. “Gue kaget tapi seneng, lo tau dari mana gue suka main di amusement park?”

“Adel?” jawab Zacky ragu. “Dia pernah cerita waktu ke dufan, kamu rela beli fast track biar bisa naik roller coaster lima kali.”

“Soalnya kalo antri, bisa seharian terus fast track juga cepet bisa pindah-pindah wahana!” Gia bercerita dengan nada senang membuat Zacky memperhatikan dalam senyumannya. “Tapi Zac, gue baru tau kalo di ada tempat kayak gini mana tersembunyi banget terus sepi?”

Wajar Gia bingung, pasalnya taman bermain ini benar-benar sepi hanya ada beberapa pegawai yang telihat belum lagi tempatnya yang bisa dikatakan tak terlihat. Seumur-umur dia hidup baru kali ini menemukan taman bermain seperti ini. Bagus sih cuma terlihat berbeda.

“Oh, ini punya Zetta.” Gia membelakan matanya. “Belum official di buka, tapi udah beroprasi dari tahun lalu. Pengunjungnya juga cuma orang yang Zetta kenal aja.”

Gia sekarang mematung sangking terkejutnya, memang orang kaya beda. Sebenarnya kekayaan Althero ini sebesar apa sampai salah satu anaknya saja punya taman bermain sendiri. Mau heran tapi ini Althero, semua mimpi bisa jadi nyata.

Zacky menundukan badannya agar dapat melihat wajah Gia. “Yang penting kamu senyum hari ini, itu udah lebih dari cukup. Seneng kan?” tanya Zacky sambil merapikan anak rambut Gia.

Gia mengangguk. “Senang banget tapi EDEN GIMANA EDEN!!!!! “

“BURUANNN GUE MAU LIAT BEBEK!!!” Gia tersentak kaget, suara pekikan itu terdengar sangat kencang sampai Zacky juga ikut terkejut. Itu Eden yang sedang di tarik oleh Akbar, persis seperti kelinci yang keluar kandang. Dibelakang Eden dan Akbar ada Aslan, Raga, Ayla, Luwi, Jinan, serta Aurel. Ekspresi mereka sekarang kayak kucing yang ketahuan ambil ayam di meja makan.

Gia melempar pandangan ke Zacky, menuntut sebuah penjelasan. Sedangkan Zacky menggaruk pipinya sambil melihat ke arah Akbar dengan tatapan kesal. “Tadi minta tolong Eden biar bisa quality time berdua sama kamu tapi… pada ngikut…”

Zacky salah sih cerita ke Aslan dan Eden, niatnya mau meminta bantuan dari mereka tapi saat keduanya tahu tempat yang akan Zacky datangi adalah taman bermain, tentu saja Eden gak bakal diam. Aslan dengan cepat menghubungi segelintir orang yang ia kenal. Zacky cuma bisa pasrah sambil pusing, padahal mau berduaan malah yang dateng seperumahaan.

“Zac, Do you know why I’m the luckiest person in the world?” Gia menjinjitkan badannya lalu mengecup pipi kiri Zacky. “Because I have you.”

Zacky menatap Gia dengan matanya yang tidak bisa dibohongi jika ia benar-benar mencintai wanita ini. “You’re mine, always be mine ya Gi?”

“Depends sih kalo itu.” Zacky mengernyit heran. “Kalo lo bisa naik roller coaster lima kali baru deh.”

“Oh no…” Tangan Zacky sekarang sudah diseret oleh Gia. Laki-laki ini cuma bisa pasrah dengan muka pucatnya. Belom apa-apa Zacky rasanya udah mual, memang dari dulu Zacky gak bisa main-mainan kayak gini. Dia gak segila Zetta yang bisa tertawa ketika naik roller coaster, perutnya baperan jadi suka banget mual. Kalau kata Zetta, Zacky di taman bermain langsung berubah jadi ibu-ibu hamil.

“Apaan dah ada adegan sun segala,” omel Aslan yang baru keluar dari tempat persembunyian mereka di semak-semak.

“Jomblo diem aja, lo gak di ajak.” Raga berteriak dari belakang, yang disindir Aslan tapi Luwi ikut noleh. Masalahnya yang gak ada pasangannya cuma mereka berdua. “Sabar Wi, tar lagi pasti dikasih kepastian.”

“Mending lo yang ngasih kepastian ke Kak Ayla deh Ga,” ucap Luwi langsung berlari kedepan soalnya tangan Raga udah mengepal, sedangkan Ayla yang disebelah Raga cuma bisa tersenyum.

Disaat semua berjalan menuju roller coaster, Eden malah berlari kearah pancuran yang berbentuk bebek itu. Ternyata tak-tiknya pura-pura diculik mempan untuk temannya itu, entalah sepertinya Gia aja yang kelewat bego. Akbar dari belakang jadi ikut berlari mengukuti Eden, bukan apa-apa sih masalahnya tempat ini sepi kalau sampai Eden hilang kan jadi repot.

“Bebeeeekkk!!!” teriak Eden kegirangan.

“Eden jangan lari,” kata Akbar nadanya gak tinggi malah terdengar halus banget.

“Manusia, fotoin aku sama bebek!” Eden menyerahkan handphonenya ke Akbar lalu mulai berpose. Akbar udah siap mengambil foto tapi dia sedikit tersenyum melihat pose Eden yang bisa dibilang…aneh.

Kedua tangannya di tekuk mirip mulut bebek dan kakinya dilebarkan mirip dengan kaki katak. Dari pose nya yang aneh wajah senyum Eden memang menjadi pusat kecantikannya, gigi putih rapi itu terlihat sangat menggemaskan. Akbar berdeham mengembalikan ekspresi mukanya kembali datar.

“HITUNG!!!”

“Satu dua tiga,” ucap Akbar menuruti perintah Eden.

Wanita itu tersenyum kesenangan sambil berlari kecil kearah Akbar. Melihat hasil jepretan dari laki-laki yang ia sebut sebagai manusia itu. Eden mengangkat pandangannya dan tak sengaja melihat Akbar dari jarak cukup dekat, hatinya belom siap jika sedekat itu jadi Eden salah tingkah dan mundur-mundur sampai akhirnya kakinya terpeleset.

Saat badannya hendak jatuh, tangan Akbar langsung menahan badan Eden. Kalau dari dekat begini, Eden bisa menghirup sisa bau rumah sakit yang Aslan bilang. Satu hal yang bisa menggambarkan Akbar dengan jelas, pekerja keras. Bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain, bagi Eden itu keren banget.

“Kenapa lo selalu manggil gue manusia?” tanya Akbar dengan posisi yang masih menahan badan Eden. Wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa centimeter.

Eden bangkit dengan cepat, matanya gak bisa melihat Akbar langsung. Jantungnya udah berisik nanti tambah berisik kalau mata mereka bertemu. “Karena cuma Kakak satu-satunya yang mirip manusia di mataku.”

“Kenapa gitu?”

“Hng.. karena..” Eden menelan salivanya paksa. “Karena… kamu keren…”

Akbar tertawa kecil melihat Eden yang menahan gugup. “Lo lebih keren bisa jadi penyelamat para hewan di luar sana, terus juga lucu? Gue baru kali ini ketemu orang selucu lo.”

“DIEM!!!” Eden berteriak sambil memegang telinganya yang sudah memerah. Eden gak mau liat muka Akbar yang tertawa melihatnya, alhasil Eden berlari meninggalkan Akbar yang masih menatapnya sambil tertawa.

“Kok malah kabur?” Akbar masih meninggalkan tawa akhirnya mengikuti Eden. “Jangan lari Eden.”

“Gue gak boleh ngomong sama manusia lagi, bahaya jantung gue bisa meledak,” gumam Eden masih berjalan cepat dengan menutup telinganya.

Berbeda dengan pasangan Eden, Aurel lebih kalem lagi. Kalau bagi para pejantan Ayla ini udah lumayan kalem, Aurel bisa lebih dari itu. Gia sampai pernah mikir, pernah gak ya ini cewek makan pete atau jengkol? Perawakannya princess banget, jadi sekarang Aurel cukup kaget melihat Gia dan Eden yang udah kayak orang gila.

“Gila seru banget! Lagi-lagi!” seru Gia yang barusan turun dari roller coaster dan menarik Zacky yang nyawanya masih tertinggal di atas.

“Wah wah beneran harus ulang sepuluh kali,” ucap Eden yang buru-buru mau naik lagi.

Luwi, Aslan, Jinan, dan Zacky udah kayak mayat hidup yang di geret-geret buat main sama para manusia gila ini. Muka Aslan udah pucet banget, Zacky cuma bisa melamun beneran mikir nyawanya, Luwi dan Jinan udah saling bersandar. Akbar cuma duduk dibawah sambil jepret-jepret pakai kameranya. Jangan tanya Aurel, dia gak mau ikutan karena bikin rambutnya lepek. Kalau Ayla dan Raga lebih milih main komedi putar, berasa syuting film romantis.

“Udah Gi, saya gak kuat,” kata Zacky menahan tarikan Gia.

“Segitu doang kemampuan lo? Baru juga dua kali Zac!” protes Gia dan Aslan gak sengaja di sebelahnya mendengar perdebatan itu.

Aslan ini mukanya udah pucet juga tapi sok jadi gantle aja makanya dia bangun sambil berdeham menatap Gia. “Ayo Gi, gue temenin main lagi. Baru segitu aja gak kuat apalagi ntar.”

“Apa,” sahut Zacky galak.

“Kalo di kasur,” jawab Aslan dengan nada meledek.

“Ngapain lo sama-samin anjing!” Zacky langsung meraih tangan Gia. “Sepuluh kali deh Gi, ayo!”

Aslan tertawa menarik Luwi dan Jinan dari tempat roller coaster, tak-tik nya berhasil membawa mereka kabur sekarang. Mengorbankan temannya demi kesalamatan bersama juga gak ada salahnya, pikir Aslan. Sekarang Zacky yang terjebak oleh Gia dan Eden. Kalau begini sih nyawanya beneran hilang setelah ini.

“Itu Zac kayaknya beneran masih hidup gak sih?” tanya Akbar sedikit prihatin dengan nasib temannya.

“Ya makanya lo temenin lah, bini lo juga disana,” ucap Aslan tapi Akbar mengabaikan perkataan itu.

“Gue heran ya, lo gak inget udah umur berapa pada masih main beginian.” Aurel menggelengkan kepalanya menatap para orang gila itu.

“Justru itu Rel.” Aslan menjawab dengan membalikan badannya menatap Aurel. “Justru di umur segini kita harus menikmati kebahagiaan kecil kayak gini, kita terlalu fokus ke masa depan sampai lupa gimana caranya menikmati waktu yang jalannya cepet banget.”

Aurel diam lalu Jinan tersenyum sambil menggenggam tangan Aurel. “Bener kata Aslan babe, inget gak dulu kita sering main bumper car kalo kamu stress tugas kuliah?”

“Inget,” jawab Aurel.

“Aku masih inget se-happy apa kamu waktu itu, senyum itu yang bikin aku sampai sekarang bisa bertahan sama semuanya.” Jinan mencubit kecil hidung Aurel. “Mau main lagi gak? Bumper car ada disebelah sana.”

“Tapi nanti rambut aku…”

“Makin berantakan makin keliatan lucu kok, kamu itu udah cantik apa adanya gak usah khawatir apa-apa lagi,” ucap Jinan membuat Aslan dan Luwi yang mendengar mau muntah tapi tidak dengan Aurel yang melebarkan senyuman.

Aslan beneran gak sanggup ada diantara pasangan bucin ini jadi dia asal pencet nomer telepon, ya setidaknya menyibukan diri biar gak keliatan menyedihkan. “Hallo Sarah? Oh siapa ya ini? Bukan sarah?” jawab Aslan bingung kebanyakan nama cewek di otaknya.

Luwi lebih milih narik Akbar main sky swinger, lama-lama disini juga gak betah. Eden yang baru turun setelah lima kali naik roller coaster langsung membuntuti Luwi. Mukanya kesel, bisa-bisa nya Luwi narik manusia favoritnya!

Setelah lima kali menaiki roller coaster akhirnya Gia gak tega melihat Zacky udah lemes banget. Dugaan Zacky kayaknya bener, nyawanya masih tertinggal diatas reel roller coaster. Melihat wajah Zacky yang pucat begitu akhirnya Gia ngalah dan milih main wahana yang aman aja. Pilihannya jatuh ke bianglala, hitung-hitung biar pacarnya ini bisa istirahat sejenak.

“Lo beneran gapapa kan Zac?” tanya Gia khawatir.

Zacky meneguk air mineral sambil menatap Gia kesal. “Menurut kamu aja Gi, orang main roller coaster lima kali kayaknya cuma kamu doang.”

“Eden juga,” ucap Gia ikut kesal.

“But it’s fun tho,” kata Zacky sambil mencondongkan badannya kedepan. “Dengerin kamu teriak lepas gitu rasanya saya ikutan lega.”

“Emang keliatan banget ya gue kayak orang butuh pertolongan?” Gia terkekeh sendiri.

“Engga,” jawab Zacky. “Kamu gak keliatan kayak orang butuh pertolongan, malah kamu terlihat semuanya lagi baik-baik aja padahal seminggu terakhir ini banyak hal yang terjadi.”

“Kamu terlalu mandiri Gi, semuanya bisa kamu lakuin sendirian. Jadi saya mikir gimana caranya biar kamu butuh saya,” lanjut Zacky.

“Nyatanya gak gitu kok, gue masih butuh lo. Cuma kadang gue suka lupa aja, kebiasaan sendirian. Soalnya dulu gue waktu sama mantan-mantan gue, gue juga biasa sendirian.” Gia menatap indahnya pemandangan di samping kanannya. “Jadi sendirian bukan hal yang sulit buat gue.”

“They are stupid,” ucap Zacky membuat Gia mengangkat alisnya. “Kalo kamu pacaran sama hantu baru deh ngerasa sendirian gak masalah.”

“Ngaco, yakali gue pacaran sama setan!”

“Makanya saya disini. Saya gak mau kamu merasa sendirian, hubungannya berdua kalo serasa sendirian berarti ada yang salah.” Zacky paham, Gia adalah wanita yang bisa melakukan semuanya sendiri maka dari itu Zacky selalu berjalan dibelakang Gia, jika nanti Gia menoleh dia akan sadar bahwa dirinya gak sendirian melewati jalan itu.

Zacky menyelipkan jemarinya diantara jemari Gia. “Sekarang semuanya udah mulai tenang, jadi mulai sekarang coba pelan-pelan berhenti untuk menaruh banyak beban di diri kamu. Saya pengen kamu kayak hari ini, nikmatin apa yang harusnya kamu nikmatin.”

“Nenek udah gak ada terus sekarang Tante Natalie juga ngasih semua warisan Papa ke gue sama Adel. Jujur agak asing sama semuanya masih takut aja, biasanya semua berjalan gak sesuai yang gue inginkan tapi sekarang malah mulus banget.”

“Pelan-pelan aja Gi, situasinya gak harus dipahami cepet kok. Terus sekarang kamu jadi salah satu pemegang saham di Atlas Group dong?”

“Bisa di bilang gitu, aneh banget ya? Biasa juga jadi cucu buangan mana orang kantor pada natap gue aneh.”

“Pernah denger hukum sebab akibat gak?” tanya Zacky tiba-tiba.

Gia menggeleng membuat Zacky kembali menjelaskan. “Artinya, apa yang terjadi itu merupakan akibat dari tindakan sebelumnya. Sama kayak kamu sekarang, apa yang kamu dapetin sekarang itu hasil dari semua hal yang telah kamu laluin Gi. Hal positifnya, apa yang terjadi di kamu dulu menjadikan seorang Ghiana yang sekarang, the strongest woman that I ever know.”

"Life is like roller coaster Gi, kadang diatas dan kadang dibawah. Kamu udah terlalu banyak dibawah sekarang nikmatin saat kamu diatas, jangan peduliin kata orang yang gak pernah paham kondisi kamu."

Gia lagi-lagi terkagum-kagum oleh laki-laki di depannya. Zacky selalu berhasil membuat sesuatu yang bersifat negatif terlihat positif. Sifatnya bisa menjadi air seketika dalam semua api yang Gia keluarkan.

“Oh God, I’m so lucky to have you,” kata Gia menyentuh pipi Zacky.

“Iyalah, udah ganteng, pinter, a good kisser, terus di kasur — Akh Gi!” Balaian itu berubah jadi cubitan kesal dari Gia. Memang gak bisa di puji dikit.

Zacky tertawa melihat wajah Gia yang kesal, meskipun hari ini nyawanya berasa hilang setengah perkara roller coaster tapi Zacky lega. Setidaknya Gia merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Keputusannya untuk membawa segerombol manusia rusuh juga ternyata tepat. Gia tersenyum lebar, Zacky bisa merasakan beban di pundak wanita ini mulai berkurang.

“I’m the luckiest person Gi, dapet seorang kayak kamu itu langkah. Ibarat kata saya kayak nemu barang antik.”

“Kok gue disamain kayak barang sih!” protes Gia.

“Karena kamu gak ada duplikatnya, cuma ada satu,” jawab Zacky sambil tersenyum. “Bahagia bareng ya Gi, saya akan berusaha bikin kamu bahagia dan kamu dengan terus di samping saya udah bikin saya bahagia.”

“Gue juga mau usaha bikin lo bahagia sama gue,” ucap Gia lirih dengan mata yang menatap Zacky lekat.

“Waduh bahaya, diem aja udah bahaya apalagi gerak,” goda Zacky.

“Ih Iky!”

Zacky mengacak rambut Gia. “Manggilnya gitu terus dong Gi, suka dengernya.”

Ternyata jika beban tersebut diangkat oleh dua orang, semuanya terasa lebih mudah. Gia terus bersyukur karena semesta mengirimkan Zacky kepadanya, dalam waktu yang tepat. Sekarang, dan berharap selamanya.