You’re Worth More Than You Know, Love.

You’re Worth More Than You Know, Love.

Cantik itu perspektif, setiap orang akan cantik di mata orang yang tepat. Bagitu kira-kira perkataan yang sering Gia dengar, tapi entah kenapa bagi Gia kata-kata itu belum terbukti benar. Dia sering mendengar pujian itu namun rasanya bukan sebuah pujian yang benar-benar tulus, kata-kata itu cenderung hanya sebuah sopan santun yang di tuturkan di depan dirinya.

Gia melihat dirinya sendiri di depan kaca yang ukurannya setinggi badannya. Gak jelek sih cuma gak cantik-cantik amat, begitu pikir Gia. Rasanya hari ini ingin sekali terlihat secantik Aurel atau Ayla, Gia selalu merasa dirinya tidak pernah cukup cantik. Gak bisa dibandingkan dengan wajah-wajah konglomerat, Gia sadar itu. Ia menghembuskan nafas beratnya, sudah dandan dari sore kayaknya tidak merubah seorang bebek menjadi angsa. Ini bukan negeri dongeng Ghiana…

“Maaf nunggu lama,” ucap Gia dengan wajah datarnya masuk kedalam mobil Zacky. Laki-laki ini mengenakan setelan berwarna coklat muda, Gia melirik sekilas melihat penampilan Zacky. Gak usah dinilai lagi, udah pasti ganteng.

Mata Zacky gak bisa lepas memandang Gia, bibirnya sampai sedikit terbuka. Gia menoleh hingga Zacky salah tingkah — tertangkap basah sedang memerhatikan kekasihnya itu. “Jelek banget,” ucap Zacky setelah berdeham.

“I know! Jelek banget ya? Padahal gue udah berusaha dandan dua jam! Mana dressnya mahal begini tapi tetep gak merubah gue,” kata Gia kesal terhadap dirinya sendiri.

“Jangan lebih jelek dari ini Gi, saya takut kamu diambil orang.” Tangan Zacky mengelus perlahan rambut Gia, tatapan matanya masih fokus menyetir.

“Lo malu gak bawa gue? Kalo malu gue bisa turun — “

“Stop it, Ghiana.” Kaki Zacky menginjak rem perlahan ketika lampu menunjukan merah. “Ngapain saya malu? Orang lain yang akan iri saat saya pegang tangan kamu nanti, trust me.”

“Jangan dilepas pegangannya nanti, gue takut gak kenal banyak orang.” Tangan Gia menggenggam kelingking Zacky namun Zacky membalikan tangannya, jemarinya masuk diantara jemari Gia.

“Kalo ke kamar mandi juga jangan dilepas? Bahaya kalo gitu,” ucap Zacky sambil tersenyum. Lagi-lagi manusia ini bikin Gia kesal, padahal dia udah serius.

“Mau nyoba di kamar mandi?” Zacky hampir tersedak salivanya sendiri. Wajahnya langsung merah membuat Gia tertawa lepas. “Yaelah, lo yang godain lo sendiri yang salting. Dasar Pak Althero.”

“Gi, kamu hampir bikin saya jantungan.” Zacky mengelus dadanya sendiri. Gia yang masih tertawa akhirnya mencondongkan badannya kearah Zacky lalu tepat di pipi kiri Zacky benda kenyal itu mendarat.

Zacky makin mematung setelah Gia mendaratkan satu kecupan disana. “Gemes banget sih Iky,” goda Gia dengan panggilan andalan itu. Demi Tuhan, Zacky sekarang hampir serangan jantung. Memang jantungnya ini baperan, jadi dikit-dikit suka berisik.

“Gi, udahan telinga saya merah nanti ketemu banyak orang.” Zacky menggelengkan kepalanya lalu berusaha fokus nyetir. Kapok godain Gia yang ada malah ditantang balik, kan Zacky langsung ciut. Masalahnya waktunya agak gak pas.

“Bilang dong, Gia cantik udahan ya, gitu.” Gia menatap Zacky penuh harap. Ini kesempatan emas agar Zacky bisa memujinya.

“Lanjut deh, sampe mana tadi kita? Kamar mandi?” Gia langsung menggerutu kesal dan berakhir pipi Zacky penuh akan lipstik merah yang Gia gunakan. Zacky tertawa gemas melihat wajah Gia yang sudah di tekuk, memang menjaili Gia gak ada kata penyesalan kalo pemandangan yang di dapat seperti ini.

Gia membuka matanya lebar-lebar setelah melihat dekorasi acara ini, memang old money berbeda. Garden party yang Gia pikir hanya diadakan di taman, benar sih taman cuma tamannya ini bukan sembarang taman. Letaknya di atas tebing yang dimana pemandangannya itu langsung laut lepas. Mau kaget tapi ini keluarga Aslan.

“Gi masih ada sisa lipstik kamu gak?” Zacky menunjuk pipinya.

Gia memukul lengan Zacky. “Makanya lain kali jangan nakal!” ucap Gia lalu membersihkan bekas noda merah di pipi Zacky.

“Kamu yang kayak kucing garong kok saya yang disalahin,” gerutu Zacky ikut membersihkan pipinya.

Berbeda dengan keluarga Althero, keluarga Syahreza ini gak main-main relasinya. Bukan dari kalangan orang kaya saja tapi orang-orang yang berpengaruh dalam bidang politik juga ada disini. Gia bisa lihat Ayahnya Aslan berbicara dengan gubernur sambil menepuk pundak Aslan seperti membanggakan putranya.

“Zac,” panggil Johnnatan yang sedang berbincang dengan laki-laki tua yang entah siapa. Kalau dari penampilannya sih udah pasti Johnnatan ini berbeda, bau-bau duit dari atas sampai ujung kaki. “Come here.”

Saat Zacky hendak menarik tangan Gia, wanita itu menolak. “Lo aja, gue disini mau ambil minum.”

“Ikut aja, Kak Jo udah tau hubungan kita kok.”

“Kayaknya itu penting, jadi lo aja yang kesana.” Gia mendorong tubuh Zacky tapi Zacky masih menatap Gia tidak yakin. “I’m okey, mau nyamperin Aslan juga.”

“Raga sama Ayla bentar lagi sampe jadi — “

“I’m fine Zac,” potong Gia sambil tersenyum.

“Lima belas menit aja, I’ll right back.”

Lima belas menitnya orang sibuk semacam Zacky jangan pernah dipercaya, sudah hampir tiga puluh menit Gia nunggu beruntung ada Raga sama Ayla tapi tetep aja rasanya kayak jadi nyamuk. Mana dua orang ini adu mulut terus, pembahasannya gak penting juga.

“Ya lo bayangin soto campur susu gimana rasanya coba,” kata Ayla. Mereka ini lagi debat soal soto betawi, gak penting memang.

“Enak Ay, lo belom nyoba aja makanya bisa kasih pendapat kayak gitu.”

“Oyster aja semua orang gak bisa makan, jadi wajar kalo soto betawi juga gak bisa dinikmatin banyak orang.”

“Lah kalo itu mah orang norak gak bisa makan makanan mahal,” balas Raga gak mau kalah. Gia di samping mereka jadi pusing, dasar pasangan aneh. Maaf dikoreksi, dasar pertemanan aneh. Gia juga gak paham hubungan mereka ini apa. Mungkin, cinta lama gak selesai. Gia perlahan berjalan menjauh dan mendekati meja kumpulan dessert, mending makan dari pada mendengarkan Raga dan Ayla yang berdebat tentang soto betawi.

Sedangkan Zacky yang akhirnya terbebas dari obrolan bisnis itu mulai mencari Gia. Dari jauh yang bisa dilihat hanya Raga dan Ayla yang sedang berdebat sampai otot leher mereka kelihatan, tapi Gia gak ada disana. Saat kaki Zacky hendak melangkah tangannya langsung ditarik oleh seseorang.

“Heh goblok.” Zacky memejamkan matanya sejenak, suara ini memang tidak asing bagi Zacky. “Lo bego ya bawa Gia kesini?”

“Ze, nanti aja kalo mau gila jangan disini, malu-maluin.” Zacky hendak melangkah lagi tapi Zetta langsung menghalangi. “Apa lagi? Gue mau cari Gia.”

“Itu Gia.” Tunjuk Zetta lalu jarinya menunjuk seseorang yang memperhatikan Gia dari jauh. “Itu keluarga Bimantara.”

Zacky mengerutkan keningnya gak paham dengan maksud Zetta. “Gue gak tahu lo bakal bawa Gia hari ini tapi gue rasa rumor tentang Gia dan keluarga Bimantara bener.”

“Maksudnya?”

“Ghiana Bimantara, kayaknya anak dari Gilang Bimantara. Lo tau pernah denger kalo keluarga Bimantara kena kutukan kan?”

Zacky memejamkan matanya, dia tahu kembarannya ini memang sudah ibu-ibu tapi kenapa pemikarannya jadi begini? Percaya terhadap rumor konyol. “Bimantara itu banyak, gak semua orang yang namanya Bimantara termasuk keluarga Bimantara dan lo kenapa percaya romor aneh begini sih?”

“Zac, gue juga awalnya gak percaya tapi setelah liat Natalie Bimantara ke sekolah Cielo beberapa minggu lalu gue jadi yakin kalo ini beneran ada hubungannya. Setau gue kelurga Bimantara gak punya hubungan baik sama semua menantunya, Gia gak cerita sama lo?”

“Privacy, gue gak mau dia maksa cerita keluarga dia.” Kenapa semua orang selalu mepertanyakan nama belakang Gia, seolah-olah itu hal penting. Zacky sebenarnya sempat terpikirkan apa yang Zetta dan Raga curigai, namun pikirannya menangkis semuanya.

Keluarga Bimantara merupakan keluarga yang cukup tertutup, mereka memiliki perusahan penerbangan terbesar — Atlas Air. Tetapi sayang, nasib keluarga mereka tidak begitu baik. Pewaris utama Atlas Air — Gilang Bimantara dinyatakan meninggal dunia delapan tahun lalu karena kecelakaan tunggal. Selang tiga tahun kemudian, Victoria Bimantara — anak kedua mereka juga meninggal dunia akibat kanker pankreas yang di deritanya. Saat ini yang tersisa hanya Natalie Bimantara, anak terakhir sekaligus pewaris satu-satunya Atlas Air.

“Lo mending sekarang bawa Gia pulang, gue takut terjadi sesuatu — “ Perkataan Zetta belum selesai suara pecahan gelas sudah terdengar diujung sana. Semua orang menoleh serempak kearah sumber suara.

Zacky yang hendak berlari langsung ditahan oleh Johnnatan. “Zac, people are watching.”

Disana terlihat Gia yang menundukan kepalanya tak berani menatap lawan bicaranya. Ia tahu semua mata tertuju pada dirinya, dressnya sudah kotor akibat wine yang dilemparkan begitu saja kearahnya. Hanya rasa malu yang dapat Gia rasakan sekarang.

“Memang kamu ini tidak tahu diri! Buat apa kamu datang kesini? Mau ambil semua harta saya?” Pekikan tepat di depan wajahnya oleh seseorang nenek tua — yang sangat ia kenal siapa.

“Kamu sudah ambil empat ratus juta dari anak saya, kali ini mau apa lagi kamu? Sini saya beli harga diri kamu sekalian!” Gia menggigit bibir bawahnya menahan segala tangis karena ia tidak bisa melakukan apapun.

“Mama! Udah Ma!” Iya, itu perempuan yang Gia sangat benci. Berusaha menjadi baik tapi hanya membawa petaka untuk keluarganya. Natalie Bimantara, adik perempuan dari Papanya sedangkan nenek tua ini adalah orang tua papanya yang sudah membencinya dari lahir.

“Saya akan kembalikan,” ucap Gia dengan suara seraknya.

“Orang miskin seperti kamu mana bisa mengembalikan uang itu, anak saya sudah jadi korban gara-gara menikah dengan Ibu kamu yang seperti pelacur itu.” Bagi nenek tua itu, empat ratus juta hanya sebuah uang receh tapi tidak untuk Gia. Uang itu ia harus dapatkan dari banting tulang dari matahari terbit hingga tenggelam.

“Cukup! Jangan bawa-bawa Bunda,” balas Gia.

“Hutang kamu tidak hanya empat ratus juta itu, kamu lupa dengan biaya pengobatan adik kamu dulu siapa yang menanggung? Keluarga kamu bisa apa tanpa saya?” Nenek tua itu maju lalu mendorong bahu Gia. “Kamu penyebab kematian anak saya! Ibu kamu, adik kamu, dan kamu adalah parasit yang menggorogoti anak laki-laki saya!”

Gia masih tidak berani menatap orang itu. Sejak kecil ia menerima perkataan kebencian membuat Gia ketakutan. Kebencian neneknya itu membuat Gia bertanya-tanya, apakah ia sangat tidak berharga? Apakah keberadaannya tidak pernah diinginkan? Berulang kali Gia merasa perkataan neneknya ada benarnya, mungkin dialah penyebab kematian ayahnya.

“Berlutut dihadapan saya, agar semua orang tau setidak berharga itu kamu bagi keluarga saya,” ujarnya.

“Ma udah,” ucap Natalie lalu berusaha berbicara dengan Gia meskipun Mamanya menghalangi. “Ghiana pergi, biar tante yang urus.”

“Jika…” Gia mengangkat kepalanya menatap sorot mata neneknya itu. “Saya berlutut sekarang… hutang saya lunas dan anda tidak mengusik keluarga saya lagi?” ucap Gia ragu.

“Ghiana!” pekik Natalie tapi Mamanya langsung tersenyum senang kearah Gia.

“Tentu saja, kamu bisa hapus nama Bimantara untuk selamanya.” Neneknya ini benar-benar tidak ada rasa iba sama sekali, semua mata yang menatap mereka juga tidak ia pedulikan.

Gia menarik nafasnya lalu memejamkan matanya. Hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang, badannya mulai membungkuk perlahan. Menjatuhkan harga diri untuk keluarganya bukan hal yang sulit, jika perlu nyawanya yang diberikan, Gia akan lakukan itu. Ibu dan adiknya, hanya itu yang ia punya.

Saat lututnya hendak menyentuh lantai, sebuah tangan menahan kedua bahunya. Gia membuka matanya yang sudah memerah akibat menahan tangis, seseorang dengan mata legamnya menatap tanpa berkedip. Dilepasnya jas tersebut dan dipindahkan ke bahu Gia. Ia bersihkan sisa wine yang masih menempel pada dress Gia.

“Zac — “

“Don’t argue with me.” Wajah Zacky terlihat dingin dan mengintimidasi, cukup membuat Gia tidak berani membantah lagi.

Zacky menoleh menatap Natalie Bimantara, matanya sama sekali tidak ingin menatap nenek tua di depannya. “Saya lunasi malam ini, kirimkan nomor rekeningnya atau mau cash?”

Gia menarik lengan Zacky. “Jangan…”

“Sudah pintar ya kamu sekarang cari laki-laki, mau jadi pelacur seperti Ibu kamu?” Zacky menahan nafasnya, saat ini tangannya sudah mengepal. Seluruh emosi ia tahan, Zacky masih waras jika yang didepannya ini itu wanita tua. Semarah apapun, ia tidak pernah memukul wanita. Pantang baginya.

“Cash, saya serahkan besok ke kantor Atlas Air,” ucap Zacky final langsung menarik tangan Gia keluar dari kerumunan yang menonton pertengakaran itu seperti sebuah sinetron.

Langkah kaki Aslan terlambat, dia hanya bisa melihat Zacky dan Gia yang mulai pergi. Sedangkan Raga dan Ayla memilih untuk tidak ikut campur, terlebih Raga yang dimana keluarganya memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Bimantara. Dia tidak mau ambil resiko.

Sepanjang perjalanan Gia cuma bisa menangis dalam diam, Zacky sama sekali tidak berekspresi. Wajahnya datar dengan mata yang terus fokus menyetir, dia sama sekali tidak menoleh ke Gia. Sesekali Gia menoleh melihat Zacky tapi sebuah kata panggilan tidak bisa keluar dari mulut Gia. Saat ini yang Gia rasakan hanyalah rasa malu. Untuk mengangkat wajahnya saja berat rasanya.

Gia sempat bingung kemana dirinya dibawa, jangankan bertanya untuk melihat wajah Zacky saja Gia takut. Ternyata tujuan mereka adalah apartemen Zacky. Rasanya Gia mau kabur ke unit Eden tapi Zacky sudah menarik tangannya lebih dulu. Suasana jadi super dingin, Zacky masuk dan sibuk mengambil sesuatu hingga akhirnya ia melempar kaos putihnya kearah sofa.

“Ganti, baju kamu kotor,” kata Zacky tanpa menatap Gia.

Gia cuma mengangguk menuruti perkataan Zacky. Kaos itu berukuran dua kali lipat badannya, saat di gunakan tubuh tubuh mungilnya langsung tenggelam dibaju itu. Gia menatap sejenak wajahnya di cermin, menyedihkan. Hanya kata-kata itu yang tergambarkan di otaknya. Seorang wanita menyedihkan yang menjual harga dirinya demi uang.

“Minum.” Gia sedikit tersentak ketika tangan Zacky menyerahkan satu gelas teh hangat. Laki-laki itu duduk di sofa yang sama namun matanya dari tadi enggan menatap Gia. Dalam hati Gia sudah siap, apapun yang keluar dari mult Zacky mengenai hubungannya, Gia akan terima.

“Maaf…”

“Jangan pernah mengucap maaf kalau kamu gak salah, saya gak suka.” Gia kembali menutup mulutnya rapat-rapat. Zacky mode marah memang semenyeramkan ini.

Gia membasahi bibirnya lebih dulu, awalnya ia ragu tapi Zacky memang pantas atas penjelasan. “Tadi itu nenek gue, dari dulu memang beliau benci sama gue dan Bunda. Kebencian itu dimulai saat Papa gak mau dijodohin sama orang pilihannya dan milih untuk menikahi Bunda.”

“Saya gak maksa kamu cerita, you can stop.”

Gia menggeleng. “Lo perlu tahu, jadi nanti lo bisa mikir…”

“Mikir apa?” tanya Zacky bingung.

“Mikir apakah gue orang yang pates buat lo.”

Zacky mengusap wajahnya kasar. “Sekali lagi kamu bilang begitu, saya bisa hancurkan rumah keluarga Bimantara.”

Mata Gia langsung melotot. “Bukan! Maksud gue dengerin dulu gitu…”

“Ceritakan semua ke saya, kita lihat apakah kamu pantas untuk di rendahkan oleh mereka.” Zacky menatap Gia dengan tatapan galak.

“Papa memang gak pernah dapet restu dari nenek buat nikahin Bunda, jadi satu-satunya cara ya buat gue ada di dunia ini. Setelah Bunda hamil, Papa keluar dari rumahnya buat nikah sama Bunda, dia ninggalin semuanya untuk Bunda. Keluarga gue baik-baik aja sampe akhirnya bisnis Papa bangkrut dan Bunda hamil padahal gak direncanain,” jelas Gia lalu sedikit gugup menjelaskan hal berikutnya. “Malem itu, Bunda kontraksi dan dokter bilang harus operasi caecar. Papa gak punya uang karena posisinya habis bayar uang kuliah gue jadi Papa yang masih panik nyetir sendiri ke rumah keluarganya buat pinjem uang tapi takdir Papa ternyata berhenti disana.”

“Dua tahun pertama setelah Papa gak ada, nenek dan tante Natalie memang banyak bantu kehidupan gue meskipun tetep gue harus denger semua kata-kata makian tapi gapapa yang penting Adel sama Bunda bisa makan. Setelah gue lulus gue bisa cari kerja dan mulai bayar hutang ke mereka. Kemarin gue kaget kalau tante Natalie bayar semua uang sekolah Adel terus ya jadi gini.”

“Makanya kamu kerja keras sampai lupa kalau diri kamu gak kuat?” tanya Zacky membuat Gia mengangguk. “Kenapa kamu gak bilang ke saya?”

“Karena gue gak mau dikasihani, gue bukan pengemis Zac. I’m here because i love you not your money.”

“Hard isn’t? Saya tau beban kamu sulit tapi Ghiana, jangan menjual harga diri kamu demi uang. Saya benci itu, saya benci ketika kamu direndahkan ketika kamu tidak dihargai.” Zacky membuka kedua lengannya. “Saya marah, but let me hug you first.”

Gia menekuk bibirnya lalu air mata itu turun. Entah mengapa jika di depan Zacky air matanya ini gampang banget lolos. Gia memeluk laki-laki itu erat dan Zacky membalas pelukan itu tak kalah eratnya.You have me, please jangan lupa kalo kamu gak sendirian.”

“Zac, kalo malu sama gue gapapa kok. Gue paham dan gak bakal sakit hati kalo misal lo berubah pikiran tentang perasaan lo.” Gia melepaskan pelukan itu. “Lo bisa cari yang lebih dari gue.”

“Lebih gimana?”

Gia mengangkat bahunya. “Lebih cantik, lebih pinter, lebih dewasa, apapun itu yang pasti lebih dari gue.”

“Untuk apa semua itu kalau yang saya mau itu hanya kamu?” Gia diam, perkataan itu menenangkannya. “Cantik, pintar, atau apapun itu kalau orangnya bukan kamu maka semua itu sia-sia Gi.”

Gia memaikan jemari Zacky sambil menunduk, menatap mata Zacky sepertinya hal yang cukup sulit sekarang. “Maaf, baru bisa cerita semuanya sekarang.”

“Ghiana, look at me.” Zacky menaikan dagu Gia agar matanya saling bertemu. I don’t want to rush anything because I always love you in slowmotion.

“Kalau seandainya gue dulu gak keras kepala buat kuliah pasti semua gak bakal begini, pasti Papa masih hidup terus Adel pasti bisa ngerasain kehadiran Papa,” gumam Gia.

“Jaminannya apa? Dukun kamu bilang gitu?” Zacky sedikit menyentil jidat Gia. “Pikirannya perlu di sentil, nakal banget bikin cewek gue mikir negatif mulu.”

“Ih Zacky! Sakit!” Gia memegang jidatnya dengan mulut yang maju seperti bebek.

“Drama, nyentilnya dikit doang.” Tangan Zacky mengelus rambut Gia perlahan lalu ia tatap mata wanita itu dengan serius. I wish you could see yourself through my eyes.

“Hm?”

You’re worth more than you know, love.

Gia mematung, dia sadar hanya Zacky yang bisa membuatnya merasa dihargai, merasa disayangi, dan merasa dicintai. Tidak ada orang lain. Hanya Zacky. She fell harder than before.

“Tadi itu lo marah ke gue?” tanya Gia.

“He’em, saya marah kamu menyerahkan harga diri kamu hanya sebatas uang. Hargai diri kamu Gi, lebih dari saya menghargai kamu. Jangan berlutut di depan orang lain lagi apapun alasannya. Kalau saya yang berlutut depan kamu gak masalah.”

“Kok gitu?”

“Kan nanti saya kalo ngelamar kamu posenya kan nekuk satu lutut saya.” Gia langsung mencubit pinggang Zacky. “Akh — kan bener Gi, aduh sakit.”

“Jangan gitu nanti gue berharap,” gumam Gia.

“Cie berharap jadi istri saya,” goda Zacky.

“Oh ya lupa, kan lo gak mau punya istri jelek.”

“Yang bilang jelek siapa?”

“Lo! Lo bilang gue jelek!” protes Gia.

Zacky berdeham sejenak lalu dengan ragu ia mengucapkan kata itu dengan cepat. “Cantikbangetyagitu.”

“Ha?” Gia mendekatkan telinganya. “Cajdsjakdjn, gitu doang gue dengernya.”

“Can — “ Zacky membuang nafasnya. “Perlu banget saya ngomong gitu?”

“Perlu, gue pengen denger kalo gue beneran cantik gak dimata lo.”

Satu tangan Zacky meraih tengkuk leher Gia, menarik wajah wanita itu mendekat dengannya kemudian ia berbisik. “Cantik banget, saya setiap hari kesal liat kamu makin cantik. Saya takut orang lain rebut kamu dari saya.”

Gia tersenyum puas. “Makasih, gue baru kali ini merasa dihargai dan dicintai.”

“Mau cium boleh gak?” tanya Zacky yang mulai melihat bibir Gia. Satu hal yang Gia suka dari sosok Zacky, apapun yang akan Zacky lakukan padanya pasti diawali oleh kata-kata ijin. Zacky begitu menghargai Gia, seluruhnya.

“Kalo cium nanti marahnya hilang?”

Zacky mengangguk. “Tapi harus lama, soalnya saya marahnya banyak.”

“Ye, itu sih lo yang mau.” Gantian Gia yang menyentil jidat Zacky.

“Boleh gak?” Gia tersenyum lalu menarik kerah kemeja Zacky lebih dulu. Zacky tersenyum saat bibir mereka bertemu, tangannya pindah ke pinggang Gia. Matanya tertutup menikmati setiap momen lumatan yang terjadi, tidak seperti sebelumnya yang terkesan buru-buru, kali ini lebih lembut seolah-olah keduanya saling menyalurkan sebuah cinta disana.

Zacky melepaskan pugutan mereka sejenak sambil merapihkan anak rambut Gia. Please remember that you’re enough and always enough for me.”

“I love you, Zac.” Gia kembali menarik kerah Zacky. “Just kiss me again.”

“Easy, love.” Zacky tertawa lalu kembali menarik dagu Gia dan mempertemuan benda kenyal itu. Gak ada hal yang lebih membuat Zacky bahagia saat orang yang ia cintai merasakan cintanya. Jika keadaan lebih sulit dari sebelumnya, Zacky dan Gia akan tahu bahwa their love is stronger than before.