Beautiful Germany And You

Beautiful Germany And You

Jerman, salah satu negara di Eropa yang punya keistimewaan khusus, sektor ilmu pengetahuannya selalu berinovasi mulai dari terknik hingga sains. Bisa dikatakan Jerman merupakan negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Gak salah lagi Althero mempunyai banyak kerja sama dengan perusahaan Jerman jika negaranya saja semaju ini.

Sewaktu Zacky mengatakan bahwa mereka akan melakukan perjalanan bisnis ke Jerman, sudah pasti pikiran Gia bukan cuma kerja. Gia langsung berpikir kalau ini cuma berkedok aja, kerja bentar tapi liburan juga. Sekarang saat Gia duduk di meja yang ukurannya bisa buat tiduran, semua pikirannya tentang keindahan Jerman langsung lenyap. Yang dimaksud kerja oleh Zacky ya berarti beneran kerja!

Baru saja kemarin malam mereka mendarat di Berlin, Zacky dan Gia pagi ini sudah meeting dengan perusahaan mitra. Kamar hotel saja baru Gia tempati empat jam lamanya, pantatnya ini belom puas nyentuh kasur tapi Zacky sudah memanggilnya. Cepek sih sebenernya, lumayan jet lag juga cuma mereka pakai pesawat first class jadi capeknya lumayan hilang dikit.

Tangan Gia sibuk mengetik seluruh hal yang diucapkan pejabat-pejabat tinggi ini, mana bahasanya campur-campur kadang inggris kadang jerman. Sesaat Gia cukup terkejut, ternyata Zacky fasih berbahasa jerman. Gia diam-diam tersenyum, rasanya bangga aja ngeliat laki-lakinya dengan pemikiran secerdas itu. His sexy brain is so attractive.

Memasuki jam kelima, pantat Gia beneran tepos. Udah belasan jam duduk di pesawat sekarang ditambah duduk juga di ruang meeting. Muka Gia udah kusut, capek banget. Beruntung meetingnya sudah selesai, dan mereka diajak sedikit jalan-jalan. Cologe Cathedral, Sebuah gereja katedral Katolik Roma di jantung kota Koln. Gedung gereja bergaya Gothic ini dibangun pada tahun 1248 memiliki bentuk yang unik. Desain Katedral Cologne mirip dengan Katedral Amiens dalam hal rencana tanah, gaya dan lebar proporsi tinggi.

Ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Jerman. Gia sampai membuka mulutnya tanpa sadar, bangunanya besar banget dengan semua lukisan kuno serta jendela yang dilukis seindah itu. Gia mengekori Zacky yang sedang asik berbicara dengan CEO perusahaan mitra, bangunannya lumayan besar tapi gak lucu juga kalo dia tersesat disini.

“Brauchen Sie Zeit zum Beten?” tanya CEO itu membuat Zacky mengangguk.

“Es gibt einen Wunsch, von dem ich hoffe, dass er in Erfüllung geht,” ucap Zacky lalu mulai memejamkan matanya sambil melipat kedua tangannya.

Gia beneran kayak orang bego, ini dua orang ngomong apaan? Gia menatap CEO itu sambil senyum-senyum aja. Mau ngomong juga gak bisa basa-basinya. Tiba-tiba CEO itu berbisik sambil tersenyum.

“Er liebt dich,” ucapnya. Gia bingung mau respon seperti apa, jadi dia cuma senyum-senyum lagi.

Ketika semua jadwal hari ini sudah selesai, Zacky dan Gia langsung menuju hotel. Sepanjang perjalanan Gia noleh ke Zacky, tapi laki-laki itu masih sibuk. Tangannya gak bisa diem mengetik sesuatu di handphonenya. Gia menatap kesal sambil membuang nafas beratnya, ekspektasinya ketinggian. Padahal Jerman seindah ini tapi dia gak bisa menikmatinya.

“Kenapa?” tanya Zacky tapi matanya masih fokus ke handphone. “Dari tadi nafasnya besar banget.”

“Jerman cantik banget,” kata Gia lalu melirik Zacky lagi. “Tapi sayang cuma bisa dilihat dari jendela mobil doang.”

“Kita kerja Ghiana, remember that.”

Gia makin kesel, ya dia tahu ini kerja cuma bisa dong sedikit curi waktu menikmati Jerman berdua. “Itu tadi pak Jerman ngomong apaan?”

“Pak Jerman?” tanya Zacky sedikit terkekeh. “Namanya Pak Lemar, Ghiana.”

“Ya itu deh, yang ngomong weswosweswos.”

“Kamu aja yang gak bisa bahasa Jerman, makanya gak paham.”

Gia berdecak kesal. “Ya makanya kasih tau gue, itu tadi di gereja dia ngomong apaan?”

“Cuma nawarin, mau berdoa apa engga terus yaudah saya berdoa,” jawab Zacky santai padahal dia tahu kalo nada Gia udah kesal. Ya, tujuannya emang itu sih.

“Terus lo doa apaan?”

“Ada pokoknya, ngapain kamu jadi nanya kayak lagi introgasi saya gini Gi?”

Gia memutar bola matanya kesal. “Ya siapa tau lo doain gue, biar panjang umur gitu,” sindir Gia lalu menatap jendela mobil di sebelah kirinya.

Zacky menyembunyikan senyumnya. “Itu kenapa kamu gak berdoa sendiri? Saya sih berdoa untuk kepentingan saya.”

Udah deh, Gia males jawab. Dia lebih memilih menatap pemandangan Jerman dari pada orang disebelahnya yang super menyebalkan. Sedangkan Zacky masih menatap Gia gemas, dia menyandarkan kepalanya dan menatap Gia. Dibanding pemandangan Jerman, lebih indah pemandangan didepannya ini. Wanita yang sudah memajukan bibirnya hingga menyerupai mulut bebek.

Mereka sampai di hotel masih sore hari, Gia memutuskan istrihat dulu sambil bersih-bersih baru deh malemnya jalan-jalan. Selama di kamar, Gia udah cari destinasi wisata yang bisa dia datangi seorang diri. Sebenarnya mau ngajak Zacky, tapi Gia udah keburu kesel duluan. Gimanapun juga hari ini hari kelahirannya, masa Zacky lupa? Atau laki-laki itu gak tahu? Alasan apapun bagi Gia udah gak mempan, dia udah keburu badmood liat muka Zacky.

Perhatian Gia teralihkan oleh sebuah benda yang ingin ia berikan dari jauh-jauh hari. Gia pikir sekarang momen yang tepat tapi nyatanya mereka terlalu sibuk, akhirnya Gia hanya kembali menaruh benda itu di saku bajunya. Saat dia udah siap mau keluar berkelana sendiri, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.

“Ms. Bimantara?” ucap karyawan hotel.

“Yes?” jawab Gia sambil berlindung di balik pintu kamarnya.

“I’m sorry Ms. Bimantara, Mr. Althero want to meet you on the rooftop and he gave this.” Karyawan itu memberikan notes ke Gia.

Keselnya jangan lama-lama, nanti cepet tua. Rooftop, 15 minutes atau saya tinggal.

Gia berdecak lalu kembali tersenyum ke karyawan hotel tersebut. “Where is the rooftop?”

Karyawan itu tersenyum dengan ramahnya mengantarkan Gia ke rooftop hotel. Perlu diketahui bahwa hotel ini tinggi banget, kamarnya yang sekarang aja ada di lantai dua puluh satu entahlah rooftop harus melewati berapa lantai lagi. Selama di lift, Gia hanya berpikir apa yang sedang Zacky lakukan diatas sana. Anginnya udah pasti kenceng banget, gak mungkin laki-laki itu bawa kue dengan lilin di atas sana. Gia menggelengkan kepalanya, dia terlalu banyak berharap.

Setelah pintu lift terbuka, ternyata Gia harus kembali menaiki anak tangga. Karyawan hotel membantu Gia sesekali, bangunan ini cukup tinggi jadi lumayan bahaya. Dalam hati Gia sudah menggerutu kesal, kenapa coba harus rooftop?

Jawabnnya langsung Gia dapatkan saat melihat Zacky berdiri dengan tersenyum menatapnya. Mata Gia membelak terkejut, bukan karena laki-laki itu tapi pada benda di belakang Zacky. Iya itu helikopter.

“Have fun, Ms. Bimantara,” ucap karyawan itu lalu meninggalkan Zacky dan Gia berdua disana.

Zacky berjalan menyambut tangan Gia dengan menggengam erat, ia bisikan beberapa kata ditelinga gadis itu. “Happy birthday, love.”

“Lo gak ngado gue helikopter kan?” tanya Gia membuat Zacky tertawa.

“Enggalah Gi, emang kamu bisa ngendarain helikopter?” Otomatis Gia menggeleng. Laki-laki ini hanya menggunakan kemeja putih lengan pendek dan celana pendek berwarna coklat muda. Pernampilannya terlihat santai dibanding pagi tadi.

Zacky menarik tangan wanita yang masih bingung menatap helikopter itu. Zacky menuntut Gia untuk duduk di kursi sebelah pengemudi. Gia masih bingung, rasanya beneran diluar ekspektasi dia. Pantas saja Zacky selalu bilang jangan berekspektasi karena ekspektasi di kepala Gia gak sebanding dengan segala pemikiran Zacky.

“Don’t move,” ucap Zacky sambil menarik seatbelt tempat duduk Gia. Tarikannya lumayan kencang sehingga membuat Gia sedikit terkejut. Zacky sih cuma tertawa jail melihat Gia yang udah keringet dingin.

“Wait, bukan lo yang bakal nerbangin ini kan?” tanya Gia panik saat Zacky duduk di kursi pengemudi.

“Emang kenapa kalau saya yang nerbangin? You don’t believe me?”

“Yaiya? Zac jangan aneh-aneh deh, kalo kita jatoh dari helikopter gimana coba? Mana kita lagi di Jerman, lebih rumit urusannya.”

Zacky mengabaikan omelan Gia. Ia sibuk memasang seatbeltnya sambil mengecek beberapa tuas helikopter. “Jangan remehkan kemampuan saya Gi,” ucap Zacky sambil memasang Aviation Headset ke Gia. “You will be surprised by your boyfriend skill.”

“Ini bukan saatnya sombong — Oh God — Zac!” Gia panik saat helikopter tersebut mulai terangkat.

“Relax, enjoy the view Ghiana,” kata Zacky sambil menarik dan mengendalikan tuas itu.

Awalnya Gia nutup mata sambil berdoa, ini kali pertama Gia naik helikopter jadi wajar lah ya kalo norak mana Gia gak begitu percaya sama kemampuan Zacky. Namun, lama kelamaan Gia mulai membuka matanya, indah dan sangat indah. Lampu kota yang menghiasi malam serta berbagai kendaraan yang terlihat begitu kecil. Manusia disana sampai tidak terlihat.

Gia mulai tersenyum melihat pemandangan kota berlin yang tidak ia sangka akan dilihat dari atas sini. Sontak Gia menoleh kearah Zacky yang ternyata sudah menatapnya dalam senyuman. Gia ikut tersenyum, matanya menyipit serta gigi rapih itu terlihat. Zacky bernafas lega. Baginya, senyuman itu sangat berarti.

“Kita mau kemana?” Gia sedikit berteriak karena suara helikopter cukup besar. Sekarang helikopter mereka perlahan mulai meninggalkan Jerman, arahnya kesebuah lautan dan berbagai pulau kecil disana.

“Gi, look!” Zacky menunjuk pulau kecil yang dari jauh sudah terlihat terang penuh akan lampu. “Your bikini bottom island.”

“WHAT? DISINI?” teriak Gia terkejut. Memang sih masih dalam proses pembangunan tapi dari atas sudah terlihat skema pulau tersebut. Gia bahkan bisa melihat rumah nanas di berbagai titik.

Zacky menurunkan tuas helikopter membuat benda itu turun dengan perlahan. Landangan helikopter sudah di penuhi petugas yang siap menyambut mereka disana. Gia memejamkan matanya sejenak sampai akhirnya mereka mendarat dengan selamat. Zacky tertawa sambil mengacak rambut Gia, gadis itu langsung bernafas lega.

“Sampai akhir kamu tuh gak percaya sama saya ya?”

“Duh kalo soal beginian sama siapapun gue gak percaya,” kata Gia membuka seatbeltnya namun sudah lebih dahulu Zacky membantu.

Pulau ini diisi oleh alat-alat berat pembangunan, sebenarnya Gia mau lihat-lihat sejenak. Ini pulau impiannya beneran jadi nyata, wajar saja dia penasaran. Tapi Zacky lebih dahulu menarik tangan Gia. Dari langkah kaki saja, Gia udah mulai curiga lagi. Masalahnya, mereka sekarang menuju ke laut!

“Ngapain lagi Zac?” tanya Gia mulai gak siap sama apa yang Zacky lakukan selanjutnya.

“Kita belum sampai ke tujuan,” kata Zacky mengulurkan tangannya. “Yuk, bentar lagi sampai.”

Yacth, iya ini sebuah kapal pesiar berukuran kecil. Lagi dan lagi, Gia melongo saat dikapal ini hanya ada mereka berdua. Zacky mengendarai kapal ini santai banget, kayak udah kerjaan sehari-harinya. Gia sampai berpikir kalau laki-lakinya ini bukan manusia. Keterampilan yang dimiliki tuh gak wajar banget.

Gak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di sebuah tempat yang Zacky maksud. Pulau kecil yang terdapat villa di tengahnya, hanya satu villa saja yang langsung menghadap pantai. Selebihnya hanya hutan kecil dibelakang, dan berbagai tebing menjulang tinggi.

“Ini pulau Kak Jo, saya pinjam untuk kita,” ujar Zacky. Otak Gia cuma membeku, menerima kejutan sebanyak ini dalam satu waktu cukup membuat Gia sekaget itu.

Mereka masuk menelusuri villa itu, gak ada hal spesial lain sih cuma villa biasa dengan satu tempat tidur yang cukup besar. Zacky langsung menuju dapur untuk melihat berbagai stock bahan makanan yang telah disiapkan.

“You hungry? I’ll make dinner, what do you want?” kata Zacky dibalik kabinet dapur.

Gia melihat Zacky sambil menahan senyum. “You know what? You look hot.”

“Gi, isi perut dulu baru, jangan sekarang.”

Gia sontak tertawa kencang. “Bukan gitu, tapi gue tuh paling suka liat lo masak, you look handsome and hot at the same time.”

“Oke, now sit down. Enjoy the show, Ms. Bimantara,” ucap Zacky sambil menaikan satu alisnya.

Zacky mengeluarkan bahan makanan dan mulai memotong bahan-bahan tersebut dengan lihai. Gia memerhatikan tanpa berkedip, beneran kayak koki restoran bintang lima meskipun setelah di puji begitu wajah Zacky agak menyebalkan. Gia tertawa saat Zacky menaburkan garam ala-ala saltbae, belum lagi saat Zacky mulai gaya memasak dengan wine hingga membuat api berkobar besar. Beneran kayak nonton master chef.

“Wah mie goreng!” ucap Gia padahal dia udah berharap makanan sedikit mewah. Mie goreng lagi.

“Ini namanya mie panjang umur. Mie adalah simbol umur yang panjang atau kelanggengan hidup Gi. Makannya kayak gini, jangan sampai putus.” Zacky menyuapi Gia dengan mie tersebut.

“Enak.”

“Yaiyalah siapa yang masak nih!”

“Zacky Althero, bos galak sekaligus pacar nyebelin,” ucap Gia membuat Zacky menyipitkan pandangannya.

Karena villa ini gak begitu besar jadinya gak ada meja makan, cuma ada mini bar kecil di depan dapur. Mereka makan disana sambil sesekali Gia cerita tentang betapa menyebalkannya Zacky hari ini. Zacky tersenyum mendengarkan semua omelan itu, tangannya menyentuh beberapa helaian rambut Gia dan mulai menyelipkannya diantara daun telinga.

“Ah iya!” Gia buru-buru ambil sesuatu di kantong bajunya. “I have something for you!”

Zacky menaikan kedua alisnya sambil emlihat tangan gia yang mulai mengeluarkan sesuatu disana. “Kan kamu yang ulang tahun kok saya yang dapet kado Gi?”

“Ini kado kemarin lo ulang tahun, gue lupa kasih jadinya gue kasih sekaranga aja.” Gia memberikan kotak hitam itu sambil tersenyum kegirangan. “Open it!”

Zacky membuka perlahan sambil menatao curiga Gia. “Ini bukan kecoa kan?”

“Ya ampun! Dikira gue jahat kayak lo apa!”

Zacky menatap Gia berulang kali saat melihat benda itu. “Bracelet?”

“He’em, gue selalu liat lo pakai jam tangan jadi mungkin ini bisa jadi hiasan disebelah jam tangan mahal lo.” Gia berdeham sejenak lalu kembali bertanya, “you like it?”

“I love it, thankyou love,” kata Zacky lalu memasang gelang itu. Berbalut warna silver dan hitam sangat cocok di tangan Zacky. “Well, I have something for you too.”

“Ha? Apalagi? Kan udah banyak?”

“Kurang satu Gi.” Zacky mendekatkan badannya dan mulai menarik tengkuk leher Gia. “Birthday kisses,” ucapnya dari jarak hanya beberapa centimeter.

“Just kisses?”

Zacky mencubit gemas hidung Gia. “Get your main course, love.”

Kali ini Gia yang mulai pertemuan mereka. Benda kenyal itu saling beradu seolah tak ada hari esok. Dalam cumbuan itu Zacky bisa merasakan Gia yang tersenyum dan mulai menarik tengkuk lehernya untuk saling memperdalam cumbuan tersebut. Zacky ikut tersenyum di dalam senyuman itu, rasanya ingin menghentikan waktu saat itu juga.

Pugutan terlepas sejank saat Zacky mulai menyentuh pipi Gia, ia melihat gadisnya yang tak sabar untuk kembali mempertemukan bibir mereka. Zacky kembali menyambut bibir Gia, kali ini ciuman mereka cukup brutal. Lidah yang saling menyapa satu sama lain, hingga suara decakan yang mengisi seluruh ruangan. Zacky bangkit dari kursinya untuk mendominasi ciuman mereka.

Tangannya mengangkat satu kaki Gia untuk diletakan dipinggangnya. “Jump,” ucap Zacky membuat Gia langsung lompat kedalam pelukan laki-laki itu.

Zacky menahan tubuh Gia dengan tangan yang berada di paha gadis itu, begitupula dengan Gia yang mengeratkan kakinya di pinggang Zacky. Kali ini langkah kaki Zacky menuju semua kasur besar yang dari tadi memanggil keduanya. Ciuman yang diberikan Zacky telihat cepat tapi sama sekali tidak menyakiti Gia, yang bisa Gia rasakan adalah bagaimana laki-laki ini memperlakukannya begitu halus.

Rambut Gia terurai berantakan diatas putihnya kasur itu. Bibir itu sudah berpindah pada leher jenjang Gia, hingga yang Gia bisa lakukan adalah meremas erat rambut Zacky. Erangan demi erangan lolos begitu saja dari mulut Gia membuat Zacky semakin terpacu untuk melakukan hal lebih.

“Ghiana,” panggil Zacky melepas kegiatannya. “Do you love me?”

“Ha? Harus banget nanya di sela-sela begini?” kata Gia masih berusaha mengatur nafasnya.

“Please? Just answer it.”

“I do love you, Zac,” ungkap Gia lalu membelai pipi Zacky. “Gue emang jarang bilang ini tapi gue sayang sama lo, jadi kalau — Ah.”

“Kalau apa Gi?” tanya Zacky tersenyum jail saat dirinya berhasil mendapatkan erangan itu lagi.

“Curang! Gue belom selesai ngomong — Ah Zac…”

“Talk to me, love.” Zacky kembali mencumbu satu persatu bagian tubuh Gia. Mata Gia terpejam dengan banyaknya kupu-kupu yang memenuhi seluruh isi tubuhnya. “Let me hear you, Ghiana.”

Sesuai apa yang Zacky mau, ia dapat mendengar desahan namanya yang keluar dari mulut Gia. Rasanya Gia hampir hilang akal, ia hanya dapat melihat Zacky yang mulai membuka kemejanya. Matanya tak bisa begitu fokus sekarang.

Zacky berbaring diatas Gia dengan bertumpu pada sikunya agar tidak membebani Gia dengan berat badannya. Berantakan, itu yang Zacky bisa lihat namun entah kenapa pemandangan ini sangat candu untuknya. Seolah-olah ia ingin melihat hal ini sepanjang sisa hidupnya. Saat Gia hendak kembali menarik tengkuk leher Zacky, laki-laki itu berbisik tepat di depan bibir Gia.

“Marry me Ghiana.”

Nafas Gia tercekat begitu saja, ia menatap mata Zacky yang kini sayu menatapnya. “Zac — ”

“Marry me Ghiana, marry me,” kata Zacky lagi.

Pendengarannya sepertinya salah, Gia menghiraukan itu dengan kembali mempertemukan bibir mereka. Zacky yang posisinya berada di atas Gia, mulai menautkan jemarinya diantara jemari Gia. Degub jantung Zacky terdengar sangat kencang sekarang, Gia dapat mendengar itu. Entah apa yang terjadi esok, Gia hanya ingin mengenang malam ini. Tanpa beban dan penuh akan rasa cinta.