Althero's Wedding

Althero's Wedding

Life is unpredictable, Gia percaya itu. Baru saja Zacky bercerita mengenai kemungkinan sebuah perjodohan untuk pernikahan kakaknya namun yang terjadi malah lebih dari perkiraan. Siapa sangka atasannya ini akan menikah dengan sangat cepat? Itulah yang terjadi.

Meskipun terkesan buru-buru tapi pernikahan adalah sebuah kebahagiaan yang patut dirayakan. Gia melihat sekeliling, dekorasinya bikin Gia menelan salivanya paksa. Ini sih kalau dirinya tiba-tiba menikah sekarang kayaknya mau-mau aja. Ratusan bunga menghiasi jalan menuju altar, belum lagi rangkaian bunga yang diatur diatas sehingga menimbulkan kesan menggantung. Satu kata yang bisa menggambarkan semuanya, cantik.

Ini bukan kali pertama Gia ke Bali cuma rasanya agak beda. Biasanya di Bali gak pernah datang ke tempat semewah ini, paling mahal mungkin beach club, itupun bayarnya sambil pusing. Tapi kali ini Gia beneran hilang arah, daerahnya terlihat sepi dan hanya segelintir orang saja yang ada disini. Areanya juga dijaga ketat oleh bodyguard, semua yang masuk harus bawa identitas. Benar-benar seperti acara kenegaraan. Mungkin karena pernikahan ini bersifat private, wartawan juga gak bisa masuk kesini.

“Ini dulu tempat nikah gue sama si suami,” sahut Zetta membuat Gia langsung membalikan badannya. “Turun menurun sih semua Althero pasti nikahnya disini.”

“It’s just incredible..” ucap Gia dengan mata yang masih berbinar-binar.

“Ini gue juga kaget sih, banyak bener bunganya! Waktu dulu gue gak begini nih!” protes Zetta membuat Gia sedikit tertawa. Balutan dress satin berwarna putih cukup membuat Gia mengangkat kedua alisnya, Zetta terlihat begitu luar biasa.

“You look amazing Ze, cantik banget. Gue gak nyangka orang secantik lo udah ngelahirin dua anak bener-bener perfect banget,” kata Gia. Zetta meskipun tingkahnya bikin geleng-geleng kepala tapi gak bisa dipungkiri kalau wanita ini benar-benar secantik itu. Selain cantik, sikap ramahnya ini juga menjadi nilai lebih. Keramahannya tidak pandang bulu, pernah sesekali Gia melihat Zetta asik berbincang dengan satpam sekolah Cielo dan Adel udah kayak temen akrab. Menurut Gia, Zetta ini sempurna dari segi fisik maupun sifat.

“Gue juga masih gak nyangka sih sama kondisi gue begini bisa bener-bener punya suami dan dua bocil,” ucap Zetta takjub dengan dirinya sendiri. “I’m not perfect Gi, gue mah kurangnya banyak banget.”

Zetta duduk di sebuah kursi panjang dan di ikuti oleh Gia. “Gue itu pengidap Prosopagnosia, susah buat ngenalin orang. Anggep aja gue liat muka lo pada kayak gue liat monyet, sama semua gak ada bedanya.” Pernyataan Zetta membuat Gia langsung mengerjapkan matanya berulang kali. “Dulu sih gue gak bisa seterbuka ini ya tentang kekurangan gue, tapi setelah gue ketemu orang yang bisa ngajarin gue kalau kelemahan gue itu juga sebuah kelebihan, perlahan gue bisa menerima semuanya.”

Prosopagnosia merupakan kondisi yang membuat penderitanya kesulitan atau bahkan tidak dapat mengingat wajah, baik wajahnya sendiri maupun wajah orang lain. Penderita kondisi ini juga susah mengidentifikasi wajah di cermin maupun foto. Prosopagnosia atau face blindness bisa disebabkan oleh kelainan genetik atau masalah pada otak yang berfungsi untuk mendeteksi dan mengingat wajah. Penderita kondisi ini umumnya akan sulit mengenal dan membedakan wajah orang lain, baik yang belum atau sudah dikenalnya.

“Right person at the right time?” tanya Gia membuat Zetta mengangguk tanpa berpikir.

“Kalo udah ketemu yang tepat, rasanya diri lo bisa jadi lebih baik gitu, rasa sayang yang dia ungkapin secara gak langsung buat kita juga sayang sama diri kita sendiri. Hal-hal kecil juga jadi lebih bahagia. Kayak sekarang, Kak Jo akhirnya ketemu seseorang yang tepat. Waktunya tepat malah terlalu tepat sampe gol duluan tuh gawang,” kata Zetta terkekeh.

“Lucky you and also Pak Jo, nemuin orang yang tepat di waktu yang tepat juga,” ungkap Gia.

“Loh bukannya lo juga udah?” Zetta menoleh dengan satu alisnya terangkat. “Lo sama Zac bukannya juga lagi dalam sebuah hubungan?”

“Iya sih…” Gia memainkan jemarinya, sedikit gugup berbicara seperti ini. Perlu diingat Zetta ini kembaran Zacky, jadi berbicara mengenai ranah hubungannya dengan orang yang dekat dengan Zacky tentu ada rasa takut. “We’re good, selama ini kita saling support tapi gue tau kalo keadaan gak mungkin mulus-mulus aja. Gue takut sama pikiran keluarga lo tentang gue, apakah mereka bakal nerima dan juga tentang Zacky yang mungkin aja perasaannya bakal berubah ke gue. Semuanya masih banyak ketakutan aja.”

Zetta mengangguk paham. “Ngerti sih gue, awal gue nikah sama Jay juga begitu. Masalahnya aura suami gue nih memicu hormon para pelakor jadi gue sering uring-uringan sendiri sampe akhirnya Jay dengan caranya menyakinkan gue kalo cuma gue orangnya, tapi takut itu wajar kok karena artinya perasaan lo sebesar itu ke Zacky. Dengan perasaan sebesar itu pasti ada harapan yang besar juga.”

“Kembaran gue nih, emang rada kaku mana nyebelin banget tapi baik kok orangnya. Dia tuh rempong kayak emak-emak komplek yang anaknya mau study tour tapi sebenernya itu apa ya, love language dia deh kayaknya. Suka ngajak berantem orang yang dia sayang, emang aneh kalo gak aneh bukan kembaran gue.” Gia sedikit tertawa dengan perkataan Zetta. Mereka ini kembar, memang berbeda tapi kesamaannya cukup banyak.

“Soal perasaan, lo gak perlu seragu itu sama dia. Iky susah buat jatuh cinta tapi sekalinya cinta bisa dalem banget. Kalo soal keluarga, selama Iky bahagia pasti kita support kok.” Raut wajah Gia agak gak percaya, membuat Zetta tertawa terbahak-bahak. “Gue tau nih, soal Kak Jo pasti kan? Emang rada susah tapi dia bakal ngerti nanti. Orang-orang mah biasanya kehalang restu orang tuanya kalo gue sama Iky kehalang restu Kak Jo.”

Zetta paling paham tentang perasaan Gia, dia juga merasakannya dulu. Sifat Johnnatan yang lumayan keras ini memang terlihat menyeramkan, padahal sebenarnya itu sebuah bentuk perhatian Johnnatan terhadap adik-adiknya. Latar belakang itu penting bagi Johnnatan. Siapapun orangnya, harus jelas bibit dan bobotnya. Cukup sampai sana dan selebihnya soal penampilan atau apapun itu sudah terserah adik-adiknya.

Berbicara tentang Johnnatan, jujur saja dia juga kaget harus menikah dengan salah satu keluarga morgan. Helen Gracia Morgan, anak terakhir dari keluarga morgan yang baru saja dikenalkan oleh dirinya tiga bulan lalu. Keluarga Morgan hampir sama seperti keluarga Althero, mereka tidak terlalu terlihat karena kesederhanaannya. Keluarga Morgan memiliki beberapa bisnis dibidang teknologi, bisa dikatakan keluarga Morgan ini mempunyai banyak satelit yang menunjang beberapa perusahaan teknologi di dunia.

Selama masa pendekatan, Johnnatan ini kesal karena Helen ternyata cukup manja. Dia berpikir bahwa hubungannya dengan Helen tidak akan berjalan baik, sifat mereka berbeda. Ya, itu kan cuma pikiran Johnnatan karena nyatanya waktu mengubah segalanya. Helen yang selalu berbuat jail dan kekanak-kanakan membuat Johnnatan selalu ingin menjaganya.

Siapa sangka seorang Johnnatan akan jatuh hati dalam waktu secepat itu, sampai-sampai calon juniornya sudah ada di perut wanita yang ia selalu omeli itu. Nyesel atau engga? Johnnatan bisa jamin ia sama sekali tidak menyesali itu. Dari semua wanita yang pernah ia temui, hanya Helen yang bisa memberikan kenyamanan. Seperti dirinya selalu ingin pulang, nyaman dan aman.

“Welcome,” ucap Jayden menepuk pundak Johnnatan. Jayden Tanaka ini suami adiknya — Zannetta Althero, mereka sudah menikah kurang lebih tujuh tahun. Sekarang Jayden cuma bisa tersenyum menyambut Johnnatan masuk kedalam dunia rumah tangga.

“Awal tiga bulan pasti bahagia sih tapi selanjutnya harus banyak siapin stock sabar.” Kali ini nasehat datang dari temannya — Yudha yang baru menikah setahun yang lalu. Nasehat yang diberikan seperti sebuah ancang-ancang kalau kehidupan rumah tangga itu bukan hanya tentang romantis tapi jauh dari itu.

Johnnatan udah siap-siap mau berjalan menuju althar, mereka sekarang masih di ruangan groomsman. Temannya semasa kuliahnya sudah siap mengantarkan Johnnatan ke lembaran baru, ada Jayden — sekaligus adik iparnya sekarang, Yudha, Dimas, dan Tama. Yang baru menikah hanya Jayden dan Yudha, Dimas masih proses yang sepertinya tahun depan akan segera nyusul sedangkan Tama masih disibukkan dengan berbagai film yang akan dia garap.

Bukan cuma temannya, adik laki-lakinya juga sudah siap mengantarkan Johnnatan. Zacky yang dari kemarin sudah sibuk dengan segala urusan pernikahan ini, mulai dari daftar undangan serta semua permasalahan wartaman yang mencoba masuk ke area penikahan. Zacky tersenyum dari jauh saat kakak laki-lakinya itu sedang dijaili oleh teman-temannya.

Melihat kakak laki-lakinya yang dari dulu hidupnya terlalu terfokuskan pada perusahaan keluarga sekarang akan mempunyai keluarga baru cukup membuat Zacky terharu. Dengan hati yang penuh haru itu, Zacky berusaha menahan segala air matanya. Bahagia, hanya itu yang bisa menggambarkan perasaan Zacky.

“Nervous?” tanya Zacky saat waktu tinggal lima menit lagi sebelum acara dimulai.

Johnnatan menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. “Banget, lebih nervous dari pada dulu gue nerima jabatan CEO.”

“Congratulation Kak, finally lo sekarang bisa punya kehidupan selain ngurus perusahaan. Gak ada yang bikin gue lega selain lo nikah sih,” ucap Zacky sungguh-sungguh.

Setelah Johnnatan mendapatkan jabatan sebagai CEO Althero Group, kehidupannya itu jauh dari kata normal. Pikirannya hanya dipenuhi dengan segala urusan keluarga dan perusahaan, Johnnatan bahkan sampai lupa bahwa dirinya juga butuh sebuah tempat untuk beristirahat. Oleh karena itu sebisa mungkin Zacky membantu apapun yang Johnnatan lakukan dan hari ini Zacky merasa seluruh kekhawatirannya sudah lepas ketika Helen datang.

“Ky,” panggil Johnnatan membuat Zacky menoleh. “Thank you for always by my side.”

“Always,” balas Zacky lalu menepuk pundak Johnnatan.

“Jangan lupa tugas khusus lo, jangan sampe salah nanti Helen ngomel ke gue.” Zacky tertawa sambil mengangguk. Sesuai request si ibu hamil, Zacky harus menuruti keinginan kakak iparnya itu.

Waktunya sudah tiba, para tamu berdiri sambil menunggu pengantin untuk berjalan diatas althar. Zacky berjalan lebih dahulu, dengan senyumnya yang super pelit itu Zacky berhenti tepat di depan piano. Gia yang ada di barisan nomer dua ikut menaikan pandangannya, penasaran dengan apa yang laki-lakinya lakukan.

Zacky duduk dan jemarinya mulai menekan nada-nada di piano itu. Alunan instrumen lagu can’t help falling in love milik Elvis Presley mulai terdengar. Groomsman dan bridesmaid masuk dengan berpasangan, dibelakangnya mulai terlihat Johnnatan yang badannya sekaku robot itu berjalan perlahan sambil memberikan sedikit senyuman.

Like a river flows, surely to the sea. Helen masuk berjalan perlahan yang di depannya sudah ada Cielo menaburkan bunga. Johnnatan dari ujung althar sudah menunggunya, matanya  berkaca-kaca melihat Helen dengan balutan gaun warna putih dihiasi senyuman terindah yang pernah Johnnatan lihat. Tangannya menyambut Helen penuh suka cita, bibir Johnnatan bergumam pelan. Cantik dan selalu cantik.

Take my hand, take my whole life too. Zetta sudah mengeluarkan air matanya, begitu pula dengan kedua orang tua Johnnatan. Moment mengharukan ini memang tidak bisa menahan air mata bahagia untuk turun. Johnnatan mengucapkan vows dengan nada yang sedikit bergetar, Zacky ikut tersenyum melihat pemandangan ini. Baru kali ini Zacky melihat Johnnatan sebahagia ini.

I vow to make my life forever yours and build my dreams around you. I promise to be the man that I see now in your eyes — today, tomorrow, and for always.”

Saat vows itu terucap entah mengapa mata Zacky tak bisa melepas pandangannya dari Gia. Wanitanya yang sedang terharu berpegangan erat dengan Zetta mendengarkan seluruh kata-kata indah Johnnatan, Zacky menatapnya tanpa berkedip. Gia yang merasa diperhatikan membuat mata mereka bertemu, Gia tersenyum saat menangkap basah Zacky yang sedang memperhatikannya.

But I can’t help falling in love with you. Johnnatan mulai mengangkat wedding veil Helen, senyuman terukir di bibir Johnnatan sebelum mendaratkan kecupan di bibir Helen. Seluruh tamu bertepuk tangan dengan meriah, semua mata tertuju pada kissing time Johnnatan dan Helen tapi tidak untuk kedua insan yang masih saling menatap.

“Jelek,” ucap Zacky tanpa bersuara. Mata Gia langsung menyipit dengan mulut yang udah ngedumel kesel, hal itu justru membuat Zacky tersenyum lalu melanjutkan kata-katanya yang masih tanpa bersuara. “I love you, always.” Baru deh Gia tersenyum kesenengan dan di sebrang sana Zacky juga ikut tersenyum. Masa bodo dengan adegan kissing time kakaknya, wanitanya jauh lebih menyita perhatian.

Acara intinya sudah selesai jadi sekarang tinggal acara seneng-senengnya aja. Banyak yang nyumbang nyanyi buat bapak CEO, mana suaranya bagus-bagus tapi yang bikin Gia mematung adalah pengantin wanita alias Helen. Wanita yang sedang hamil dua bulan ini tiba-tiba mengganti bajunya dengan pakaian ala sexy dancer, mulai deh dia nari-nari heboh di depan Johnnatan. Para penonton sih cuma tepuk tangan sambil tertawa, beda dengan Johnnatan yang udah berdiri dengan posisi yang super khawatir Helen jatuh.

“Udahan, kamu jangan gila sehari aja bisa gak Len kasian dedeknya,” omel Johnnatan tapi Helen bodo amat. Entahlah nasib Johnnatan kayaknya emang dikumpulkan dengan manusia setengah gila. Tumbuh besar dengan wanita semacam Zetta yang gak jauh beda dengan Helen sekarang seumur hidup harus senantiasa menerima kelakuan istrinya.

Gia ikut tertawa sampai air matanya menetes, melihat pertengkaran lucu itu membuat Gia ikut merasakan kebahagiaan. Memang ya, kebahagiaan yang super besar itu pasti menular. Gia sedikit terkejut saat sebuah tangan menyelinap meraih pinggang kecilnya. Dagu yang langsung disandarkan ke pundaknya membuat Gia sudah tahu siapa orang itu tanpa perlu menoleh.

“Capek ya?” tanya Gia mengelus perlahan tangan Zacky yang memeluk pinggangnya.

“Seneng, capek dikit soalnya banyak tamu,” ucap Zacky lalu semakin mengeratkan pelukannya.

Kepala Gia udah sibuk noleh kanan kiri. “We’re in public Zac, banyak tamu penting disini.”

“Justru itu, biar semua tahu kamu punya saya.” Zacky gak peduli kalau semua orang tahu tentang hubungannya dengan Gia. Malah Zacky senang, biar semua orang tahu dan paham kalo Gia udah ada pawangnya. Meskipun dari tadi Zacky sibuk menyambut para tamu tapi matanya tetap sesekali melihat kearah Gia. Mulai dari keluarga jauhnya sampai salah satu pewaris keluarga Roche mendekati Gia.

Salah juga Zacky meninggalkan wanita yang penampilannya secantik ini sendirian. Gia dibantu oleh sentuhan tangan Zetta membuat wanita ini terlihat begitu menakjubkan. Aura high class Gia bisa terpancarkan begitu saja, setiap orang yang melihat Gia pasti tidak percaya kalau Gia bekerja sebagai staff marketing ya meskipun tetap tidak di pungkiri Gia juga merupakan keluarga Bimantara.

“Zac, pernikahan itu sebahagia ini ya?” tanya Gia.

“Hmm, mungkin cuma luarnya aja tapi nanti seiring berjalannya waktu pasti gak keliatan sebahagia ini,” jawab Zacky membuat Gia membalikan badannya menatap laki-laki itu lekat.

“Kenapa gitu? Kenapa gak bisa bahagia terus?”

“Nyatuin dua kepala jadi satu susah Gi, belum lagi egonya belum lagi kebiasaan-kebiasaannya dan masih banyak lagi. Nikah itu sama aja kayak ujian yang gak bakal ada ujungnya.” Zacky merapikan rambut Gia yangs sedikit berantakan. “Saya udah jadi saksi pernikahan kembaran saya, mulai dari berantem kecil sampai ke berantem besar juga saya udah liat semuanya.”

“Terus buat apa ada pernikahan?” tanya Gia lagi.

“Karena kita butuh partner kerja sama. Kalau ujiannya dikerjain sendirian terus kan capek, harus ada yang bantuin biar ujiannya kelihatan lebih mudah.” Zacky mencubit pipi Gia karena gemas melihat wanitanya ini bertanya bagai anak sekolah dasar. “Ujiannya banyak tapi bahagianya juga banyak meskipun gak kayak sekarang terlihat jelas. Nikah nanti kebahagiaan itu dateng dari hal-hal kecil. Terus lama kelamaan kebiasaan yang dilakuin bersama bakal terlihat biasa aja tapi itu yang dicari. Kenyamanan, hingga akhirnya jika kenyamanan itu diambil buat orang itu hampa.”

“Kayak misalnya kamu bangun tidur makan cereal yang sama berulang kali, kelihatannya bosen tapi setelah kamu coba cereal baru kamu bakal asing dengan rasanya dan gak nyaman,” lanjut Zacky.

“Jadi Pak Johnnatan itu nyaman ya sama istrinya?”

Zacky mengangguk. “Nyaman, meskipun dia gak ngomong tapi keliatan.”

“Kalo lo nyaman gak sama gue?” Zacky sedikit tertawa dengan pertanyaan jebakan Gia.

“Gak nyaman kalo kamu narik saya naik roller coaster lagi,” jawab Zacky.

“Itu sih lo yang lemah!” ucap Gia kesal.

“I imagine you to be my wife like.. a lot? Lihat kamu dikasur saya, pakai baju saya, ngebayangin kamu hamil belum lagi setiap pagi kamu ngomel-ngomel soal masakan kamu yang pasti ada gosongnya dikit.” Zacky menyelipkan jemarinya diantara jemari Gia. “Memang gak seindah apa yang saya bayangin sekarang, tapi satu hal yang saya yakin.”

“Apa?”

“Cuma kamu orangnya.”

Gia tersenyum lalu mulai menaruh kedua tangannya di leher Zacky, alunan musik klasik membuat tubuh keduanya larut dalam nada-nada itu. "I wish this night would last forever."

"Me too, yang bahagia gak cuma kita tapi semua orang." Benar kata Zacky, bukan hanya mereka tapi semua orang. Zetta yang sedang sibuk dengan keluarga kecilnya, Jinan yang ikut berdansa dengan Aurel, Johnnatan yang berhasil menenangkan si ibu hamil, dan sesuatu yang membuat Gia langsung mengerutkan dahinya.

"Oh God," ucap Gia.

"What?" Zacky langsung berbalik badan melihat apa yang sedang Gia pandang. Wajah Zacky langsung menampilkan ekspresi yang sama dengan Gia.

Di atas panggung terlihat teman-teman Johnnatan—Yudha, Jayden, dan Tama yang sedang bersiap-siap menari. Jayden mukanya udah kepaksa bangket tapi istrinya—Zetta mendukung luar biasa heboh. Tiba-tiba lagu belah duren mulai terdengar dan selanjutnya yang bisa dilihat cuma tarian menjijikan tapi membuat semua orang makin tertawa terbahak-bahak.

"Please kalo kita nikah jangan ada begituan," celetuk Gia yang sekarang menutup matanya dengan punggung Zacky.

"Noted, love," ucap Zacky yang sama gak sunggupnya melihat pemandangan itu.